Ruqyah , Tamimah dan Tiwalah adalah syirik

Oleh : Dicky Zainal Arifin

Bismilaahir rahmaanir rahiim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita .

Saudara saudara ku seluruh umat muslimin dan muslimat , seiring dengan gencarnya promosi Ruqyah dimana mana , kita harus mengetahui secara penuh apa itu Ruqyah . Ibnu Mas’ud t menuturkan : aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud )

TAMIMAH adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Qur’an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini ; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya Ibnu Mas’ud

RUQYAH yaitu : yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini tidak diperbolehkan karena menjurus kearah hal hal yang syirik, karena Rasulullah SAW telah mencontohkan mendoakan pada orang sakit tanpa menjampi jampi nya dan itu hanya sekedar mendoakan , sisanya ikhtiar .

A’isyah r.a berkata : Biasa Nabi SAW jika menjenguk orang sakit atau didatangi orang sakit mendo’akan : Hilangkan bahaya , ya Tuhannya manusia , sembuhkanlah , hanya engkau yang dapat menyembuhkan , tiada kesembuhan kecuali daripadamu , sembuh yang tidak dihinggapi penyakit ( Bukhari , Muslim )

TIWALAH adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.

Waki’ meriwayatkan bahwa Said bin zubair t berkata :

“Barang siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”

Dan waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An Nakho’i) berkata : “mereka ( para sahabat ) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat ayat Al Qur’an maupun bukan dari ayat ayat Al Qur’an.”

Apabila kita bercermin pada hal tersebut , maka sudah jelas bahwa Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah , Tamimah dan Tiwalah karena itu adalah perbuatan syirik . Pelaksanaan dari Ruqyah itu sendiri adalah dengan menjampi jampi seseorang yang sakit baik itu penyakit psikis maupun penyakit fisik . Jampi dan mantera mantera tersebut menggunakan ayat ayat Al qur’an atau menggunakan bahasa arab . Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada Zaman Jahilyah banyak sekali orang mempelajari sihir dan mempraktekkannya , caranya adalah dengan menggunakan berbagai macam bacaan bacaan atau jampi jampi yang disesuaikan dengan suku bangsa itu sendiri misalnya orang sunda akan menggunakan bahasa sunda kuno untuk mantera sihirnya , orang arab akan menggunakan bahasa arab ketika menjampi jampi kan sihirnya . Untuk mengubah pola semacam begitu , Rasulullah SAW tidak melakukannya secara frontal atau langsung , tetapi dengan cara yang halus dan perlahan lahan untuk menghindari perpecahan pada umat islam . Allah SWT ber Firman dalam QS. Al-Baqarah 102 :

[102] Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

QS. Al-Falaq :

[1] Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

[2] dari kejahatan makhluk-Nya,

[3] dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

[4] dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

[5] dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Di dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa pengerjaan sihir adalah menggunakan bacaan bacaan tertentu sebagai ritualnya , , dan di ayat selanjutnya sihir banyak pula dilakukan oleh kaum wanita dengan teknis yang sama yaitu menjampi dan menghembus pada buhul buhul . Biasanya sihir diikuti dengan berbagai macam syarat , agar manteranya ampuh . Kejahatan yang dilakukan oleh para tukang sihir sebagaimana dan dilakukan oleh syaitan syaitan , disebut syaitan karena sifat kejahatannya itu sendiri . Kita ketahui pula bahwa yang namanya syaitan itu adalah sifat , bisa Jin dan bisa pula Manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. An Nas :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

[1] Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

[2] Raja manusia.

[3] Sembahan manusia.

[4] dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,

[5] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.

[6] dari (golongan) jin dan manusia.

Kita pun bisa menjadi syaitan yang berwujud manusia apabila melakukan kejahatan kejahatan , malah sering terjadi mungkin kejahatan manusia jauh lebih jahat dari iblis. Apabila kita melihat dari ayat ayat tersebut diatas , adalah wajar Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah karena , apa bedanya kita dengan tukang tukang sihir yang melakukan jampi jampi , hanya jampinya dirubah dengan menggunakan ayat ayat Al Qur’an atau dengan bahasa arab . Al Qur’an bukanlah kumpulan mantera mantera , tapi adalah petunjuk bagi kaum yang berpikir . Allah SWT berfirman dalam QS. Ya Sin 62 :

[62] Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

Pola penyesatan syaitan amatlah sangat halus , terkadang sorga menjadi seperti neraka dan neraka seperti sorga , terlihatnya baik padahal belum tentu . Hal seperti inilah yang harus kita waspadai , karena syaitan itu bisa berkedok apa saja , bahkan bisa berkedok ulama. Kebanyakan masyarakat kita sangat mudah terpengaruh oleh penampilan , asalkan bahasa arab fasih , memakai gamis atau baju koko , pasang janggut tanpa kumis , kening hitam , langsung dipercaya , padahal belum tentu , karena hanya Allah SWT lah yang mengetahui persis bagaimana sebenarnya dibalik penampilan keren itu . Selaku umat islam yang mau berpikir , sebaiknya berhati hati , janganlah terpengaruh oleh penjampi penjampi berkedok agama . Apabila kita melihat dari sejarah , telah dibuktikan bahwa metoda Ruqyah itu sama sekali tidak efektif . Maka oleh sebab itu seorang Cendekiawan Muslim bernama Ibnu Sina , merancang kedokteran yang merupakan metoda amat sangat ilmiah , untuk mengobati orang sakit secara nyata dan dapat dipertanggungjawabkan . Tidak perlu seseorang itu disiksa dengan pukulan pukulan , lalu dibiarkan menggelepar gelepar , di jampi jampi , tanpa mengerti bahwa sebenarnya orang itu stress bukan kesurupan , bahkan pernah kejadian orang yang mengalami schizophrenia dikatakan mengalami bisikan gaib dari Jin , sehingga tambah stress . Ini berbahaya , karena metoda Ruqyah mengajarkan orang untuk tidak berpikir , dan mengajarkan pula lari kearah mistis . Mungkin karena menjampi itu lebih mudah daripada berpikir , dan lebih mudah pula daripada menganalisa secara objektif , dimunculkanlah Ruqyah ini . Mudah sekali , tinggal menghapal beberapa ayat untuk dijadikan Jampi atau Mantera , rubah penampilan , pasang tarif administrasi , jadilah pe – Ruqyah . Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah 164 :

[164] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Allah SWT di ayat tersebut jelas sekali menyuruh kita untuk berpikir , dan terdapat puluhan ayat lagi yang menyuruh kita berpikir , tidak ada satupun ayat di Al Qur’an menyuruh kita untuk menjampi jampi . Maka oleh sebab itu , marilah , sebagai umat muslim sejati , sebaiknya pandai memilah milih , mana yang haq , dan mana yang bathil , karena perbedaannya sangat tipis sekali . Sejarah menggambarkan Zaman Keemasan Islam yang sangat luar biasa , sebagaimana terbukti , ilmu pengetahuan banyak sekali dimunculkan dari Dunia Islam , contohnya Al Jabar atau ilmu hitung , Kimia atau chemistry , bahkan kedokteran yang dikembangkan oleh Ibnu Sina , tiga contoh itu membuktikan bahwa seharusnya umat Islam harus lebih pandai berpikir dan menganalisa , bukannya Japa Mantera yang dirubah pakai bahasa Arab . Melihat perkembangan sekarang , adalah wajar umat Islam semakin mundur , karena dengan semakin berkembangnya Ruqyah , masyarakat Islam akan semakin jauh dari berpikir , bahkan sering sekali Ruqyah dijadikan pembenaran untuk kesalahan yang dilakukan , contohnya :

1. Ada seorang suami yang melakukan penyelewengan , tapi sudah bosan dengan simpanannya , dan kebetulan anak istrinya sudah membongkar penyelewengannya itu , untuk menghindari perceraian dengan istri tuanya sang suami bilang saja dia melakukan itu tanpa disadari atau seperti tidak bisa mengontrol diri , otomatis kecurigaan akan mengarah kepada sihir dalam bentuk guna guna pengasihan, dibawalah sang suami pada seorang pe Ruqyah , ketika di Ruqyah sang suami pura pura ngamuk seolah olah di tubuhnya ada Jin , toh pe Ruqyah tidak bisa membedakan , setelah pura pura sembuh karena tadinya tidak apa apa juga , akhirnya selamatlah perkawinannya karena sang istri memaklumi bahwa suaminya kena pellet , juga anak anaknya memaklumi , dan sang simpanan bisa di depak jauh jauh .

2. Ada seorang anak muda karena cintanya ditolak akhirnya dia jadi stress , dan menderita schizophrenia . Penderita gangguan kejiwaan ini akan merasa seperti ada yang membisiki , dan datanglah pada seorang yang katanya pe Ruqyah . Mendengar keluhan tersebut sang pe Ruqyah karena tidak bisa membedakan penyakit dari Jin atau gangguan kejiwaan , langsung muncul vonis bahwa itu diganggu Jin , maka di Ruqyahlah anak muda itu . Berhubung orang yang mengalami gangguan jiwa seperti ini mudah sekali tersugesti , menggelepar geleparlah dia sampai lama , dan terdiam setelah kelelahan . Karena sugesti tersebut , anak muda itu merasa ringan untuk sementara . Tapi keesokan harinya , begitu lagi dan begitu lagi , akhirnya dibawalah ke RS Jiwa , di terapi selama dua bulan , Alhamdulillah atas Izin Allah SWT anak muda tersebut sembuh .

3. Ada seorang penderita psikosomatis yang selalu merasa tidak enak badan akibat stress , selalu mengeluh ini dan itu , setelah di check laboratorium semuanya normal , karena memang normal , rasa sakit itu muncul dari stress itu sendiri , jadinya segala kerasa . Dia jadi curiga itu karena guna guna karena dia tidak suka ketika dokter bilang bahwa sakitnya itu karena psikis atau stress , itu menunjukan bahwa dia lemah dan itu tidak disukainya . Ketika datang pada pe Ruqyah langsung di vonis terkena sihir berupa guna guna katanya , nah inilah jawaban yang dikehendakinya .Akhirnya di Ruqyah lah dia , tapi setelah puluhan kali di jampi jampi pakai bahasa arab tak kunjung sembuh , karena memang tidak ada guna guna , tapi sang pe Ruqyah bilang Jin nya sangat kuat sekali dan dia kesulitan mengeluarkannya , dan itu memang jawaban paling aman untuk menutupi ketidakmampuan . Kembalilah dia pada seorang psikiater , setelah diberi obat , seminggu kemudian badannya membaik , atas Izin Allah SWT .

Inilah tiga contoh dimana sebetulnya Ruqyah itu sama sekali tidak efektif , hanya memainkan sugesti dan sugesti , juga membuat kita semakin jauh dari berpikir . Janganlah kita menilai sesuatu berdasarkan angan angan , sebagaimana Firman Allah dalam QS. An Nisa 120 – 123 :

[120] Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

[121] Mereka itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.

[122] Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

[123] (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus selalu berpikir objektif dan tidak berangan angan kosong . Apapun yang datang dari Allah SWT , harus kita kaji secara mendalam agar kita menjadi umat Islam yang cerdas , kuat secara iman , dan berpikiran maju .

Jin Tidak Bisa Di Ruqyah

Di dalam Al Qur’an Al jin ayat 1 dan 2, Allah SWT berfirman :

[1] katakanlah (hai Muhammad) “telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an) lalu mereka berkata: “sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan,

[2] (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami berimam, kepadanya dan kami sekali = kali tidak akan menpersekutukan seorang pun denganTuhan kami,

apabila kita melihat ayat diatas, seharusnya kita mengerti bahwa jin mendengarkan ayat – ayat Al Qur’an dan mereka mengaguminnya lalu sebagian dari mereka beriman. Adalah hal yang sangat aneh apabila jin dibacakan ayat Al Qur’an malah jadi kepanasan, sedangkan ayat diatas menyatakan bahwa ketika jin mendengarkan ayat –ayat Al Qur’an tidak ada pengaruh ajaib seperti kepanasan atau mengelepar – gelepar, dan kita tahu pula Rasulullah SAW langsung membacakannya. Rasulullah SAW sendiri ketika membacakan Al Qur’an tidak membuat jin kepanasan, malahan banyak yang tadinya kafir takjub menjadi jin yang beriman kepada Allah SWT. Jadi sebetulnya aneh sekali kalau pe-Ruqyah dapat membuat jin kepanasan dengan ayat – ayat Al Qur’an, Rasulullah SAW tidak begitu.

Bagi yang mampu berpikir , berpikirlah .

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Semoga bermanfaat .

Dari Akmal Multiply . com

assalaamu’alaikum wr. wb.

Mendefinisikan Ruqyah

Ruqyah adalah fenomena tersendiri.  Hal pertama yang paling menyentak pikiran adalah nama “ruqyah” sendiri yang artinya secara harfiah adalah “mantera” atau “jampi-jampi”.  Masalahnya, sejak dulu saya tidak percaya pada mantera atau jampi-jampi, dan saya tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari Islam.  Adapun doa, jelas berbeda dengan mantera.

Perbedaan mencolok dari makna “doa” dan “mantera” itu sendiri, menurut saya, terletak pada ‘otoritas’ yang menjamin keberhasilan doa dan mantera tersebut dan konsekuensi yang dihasilkannya.  Jika kita menyebut kata “doa”, maka jelas otoritas penentunya adalah Tuhan, dan konsekuensinya adalah kita tidak dapat memastikan hasil dari doa tersebut.  Segala keputusan ada di tangan Allah SWT.  Tidak ada yang bisa mengintervensi-Nya.  Allah dapat menolak untuk mengabulkan doa manusia untuk berbagai alasan, dan tidak ada yang bisa mencegah-Nya.  Inilah ajaran Islam.  Adapun kata “mantera” memberi kesan bagaikan sebuah kata sandi, yang jika disebutkan maka pasti akan tercapai tujuannya.  Justru kata mantera inilah yang lebih dekat kepada kesan sihir dan ilmu hitam.

Tentu saja kita tidak boleh terpaku pada makna harfiahnya saja.  Jika kita hanya memperhatikan arti harfiah seperti ini, maka “shalat” hanyalah serangkaian doa tanpa aturan gerakan, sedangkan “shaum” hanyalah menahan tanpa penjelasan lebih lanjut, karena memang demikianlah artinya.  Kita perlu meneliti maksud di balik istilah tersebut.

Yang jelas, mantera sudah ada sebelum Rasulullah saw. memulai dakwahnya.  Barangkali inilah alasan penamaan “ruqyah“, agar tidak terlalu asing di telinga masyarakat Arab pada masa itu, meskipun definisinya (barangkali) berbeda.  Tapi tetap saja, sekali lagi, saya tidak percaya Islam mengajarkan mantera.

Ada banyak alasan mengapa saya tidak mempercayai mantera, antara lain :

  1. Kalau memang ada mantera, maka Rasulullah saw. adalah orang pertama yang menguasainya.  Jalan hidup Rasulullah saw. yang berliku-liku justru menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan hal-hal instan semacam mantera.  Kalau pun ada mukjizat yang terjadi secara instan, itu bukanlah hasil dari sebuah mantera, melainkan doa.  Jadi urutannya adalah merendahkan diri di hadapan Allah, memohon kesediaan-Nya untuk melimpahkan mukjizat, dan jika Allah berkenan, maka dikabulkanlah permohonan itu.  Harap dicatat, tidak semua doa manusia akan dijawab, apalagi secara instan.
  2. Penggunaan sebagian ayat Al-Qur’an sebagai mantera sementara sisanya tidak sebagai mantera adalah suatu keanehan tersendiri.  Apakah ayat-ayat itu berbeda nilainya?  Sebagai seorang Muslim, saya tidak bisa menerima ‘ketidakadilan’ semacam ini.  Setiap ayat Al-Qur’an memiliki hikmah yang mendalam dan semuanya pasti bermanfaat untuk dipikirkan.
  3. Apakah Allah berkehendak memberikan solusi serba instan kepada manusia?  Saya rasa tidak.  Kita bisa lihat sendiri pada ajaran-ajaran Islam yang jelas menekankan pada proses, bukan hasil.  Konsep mantera sebenarnya justru menunjukkan seolah-olah Islam berorientasi pada hasil.  Jika demikian, maka pastilah Islam akan menunjukkan penghargaannya pada ‘kesuksesan mencari nafkah’, bukan pada ‘kelelahan mencari nafkah’.

Jadi bagaimanakah definisi ruqyah sebenarnya?

Para aktifis ruqyah sering merujuk pada berbagai riwayat di mana Rasulullah saw. merestui beberapa sahabat membacakan beberapa ayat Al-Qur’an untuk melawan bisa hewan atau menangani kesurupan.  Jika memang riwayat ini bisa dipertanggungjawabkan alias shahih, tentu kita tidak perlu mempertanyakan lagi kevalidannya.  Tapi lagi-lagi perlu dipertanyakan definisi dari ruqyah itu sendiri.

Kenyataannya, banyak orang yang pernah memanfaatkan ruqyah atau bahkan aktifis ruqyah sendiri yang tidak paham definisi ruqyah itu sendiri.  Jawaban tipikal yang pertama diberikan adalah “memperdengarkan beberapa ayat Al-Qur’an (sesuai yang diriwayatkan pada hadits) kepada pasien sehingga gangguan pada dirinya (baik dari bisa hewan atau dari jin) bisa lenyap”.  Jika demikian, maka pertanyaan kemudian berkembang lagi : “jadi yang menyebabkan gangguan-gangguan itu lenyap apa?”.

Dari sini, ada dua jawaban tipikal.  Yang satu menjawab “ayat-ayat itulah yang memiliki kekuatan sehingga gangguan-gangguan itu pergi”, kemudian yang lain menjawab “Allah SWT-lah yang mengusir gangguan-gangguan itu”.  Jawaban yang pertama sudah jelas salah.  Ayat-ayat Al-Qur’an tidak memiliki kekuatan apa pun selain kekuatan kebenaran.  Anda bisa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sementara peluru musuh menerjang, tapi jangan salahkan takdir jika maut tetap datang.  Jawaban ini tidak bisa diterima, karena begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an tidak bisa menolak musibah, meskipun ada juga sebagian kecil kasus yang menunjukkan bahwa terjadi sesuatu setelah ayat-ayat itu dibacakan.

Meski kedengarannya ideal, jawaban kedua pun bukannya tanpa masalah.  Memang benar bahwa Allah SWT pastilah merupakan ‘oknum’ di belakang segala sesuatunya.  Musibah adalah keputusan Allah, penyakit dan peperangan pun merupakan keputusan Allah, demikian juga kesembuhan dan perdamaian.  Jawaban itu memang benar, tetapi rancu dengan perbuatannya sendiri.  Kalau memang kita mengharapkan pertolongan Allah, maka mengapa ayat-ayat Al-Qur’an itu perlu dibacakan dengan cukup nyaring?  Bukankah Allah Maha Mendengar?  Semestinya, jika jawaban kedua ini yang dipergunakan, maka ruqyah tidak mesti diperdengarkan kepada ‘pasien’, tapi cukup dalam hati saja, asalkan khusyu’.

Masih ada masalah lain lagi.  Kalau memang yang dimintai pertolongan adalah Allah SWT, maka mengapa harus ada ayat-ayat tertentu yang dibacakan?  Bukankah doa (sekali lagi, bukan mantera) di luar ibadah-ibadah maudhu’ tidak perlu menggunakan aturan-aturan yang kaku terhadap aspek-aspek redaksionalnya?  Seharusnya, ruqyah tidak perlu dibatasi dengan bacaan-bacaan tertentu (meskipun dianjurkan mengikuti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.), karena Allah mengerti segala bahasa dan gerak-gerik dalam hati, bahkan ketika lidah belum selesai mengucap doa tersebut.

Pada titik ini, biasanya saya akan dicap ingkar sunnah dan berbagai tuduhan yang keji.  Padahal saya tidak pernah bermaksud demikian.  Jika saja mereka mau bertanya sebelum menuduh, saya akan memaparkan beberapa poin berikut :

  1. Diamnya Rasulullah saw. belum tentu menunjukkan bahwa hal yang didiamkan itu benar-benar disukainya.  Islam juga mengajarkan berbagai hal dalam masalah perbudakan, namun perbudakan itu sendiri tidak disukai oleh Islam.  Yusuf al-Qaradhawi berfatwa bahwa Islam pada prinsipinya melarang perbudakan.  Hanya saja, jika larangan ini disampaikan secara gamblang, maka para pemuka kaum di masa itu tidak akan rela masuk Islam karena harus memerdekakan budak-budaknya.  Sebagai gantinya, maka banyak sekali aturan dalam Islam yang mengharuskan untuk memerdekakan budak, misalnya sebagai ’denda’ akibat melakukan beberapa jenis pelanggaran dalam ibadah.  Jadi, diamnya Rasulullah saw. ketika menyaksikan para sahabatnya melakukan ruqyah belum bisa disimpulkan sebagai justifikasi terhadap ruqyah itu sendiri.  Bisa jadi ada penafsiran lain atas sikap Rasulullah saw. ini.  Jika ruqyah dilakukan bukan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, bisa dipastikan Rasulullah saw. akan segera menghentikannya.  Namun karena yang digunakan adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan para sahabat tersebut memang tidak bermaksud buruk dengan melakukannya (tidak untuk tujuan syirik), maka beliau pun mendiamkannya.  Ini pun adalah sebuah penafsiran.
  2. Yang saya tidak setujui adalah konsep mantera, bukan ruqyah itu sendiri.  Kita perlu menelaah ruqyah yang dilakukan oleh para sahabat dahulu kala.  Dalam hemat saya, para sahabat yang di-tarbiyah langsung oleh Rasulullah saw. tidak akan mungkin terjebak dalam perilaku syirik seperti mantera.  Pastilah ada maksud lain dalam praktek ruqyah tersebut, dan jelas tidak sekedar cuap-cuap beberapa ayat lalu masalah pun beres.
  3. Ketika saya mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut tidak mengandung kekuatan (kecuali kekuatan kebenaran), maka bukan berarti saya mengingkari sunnah.  Hanya saja perlu pemikiran ulang mengenai ruqyah itu sendiri.  Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki kekuatan semacam itu.  Jika benar demikian, maka tentu kaum orientalis yang juga banyak menghapal Al-Qur’an juga memiliki kekuatan untuk meruqyah.  Menurut saya, ayat-ayat itu berfungsi untuk mengkondisikan diri manusia sehingga khusyu’ kepada Allah SWT dan secara tidak langsung juga berfungsi sebagai doa, kemudian Allah pun berkenan mengabulkan doa tersebut.  Kalau ayat-ayat itu mengandung kekuatan, maka orang-orang yang asal ucap pun bisa melakukan ruqyah.  Padahal, kenyataannya tidak demikian, bukan?

Argumen ketiga adalah yang paling tidak terbantahkan (menurut saya).  Ayat-ayat Al-Qur’an terbukti tidak membawa manfaat di tangan orang-orang fasik.  Ayat-ayat itu tidak membuat kaum orientalis yang menghapalnya mendapatkan hidayah.  Jadi jelaslah bahwa kekuatan bukanlah berasal dari ayat-ayat tersebut.  Maka patahlah konsep mantera tadi.

Sayangnya, di lapangan, konsep mantera inilah yang banyak dipercaya oleh orang.  Islam menjadi agama yang (seolah) serba instan.  Padahal, segala sesuatu ada prosesnya.  Saya jamin, mengucapkan ayat-ayat ruqyah seribu kali dengan hati yang dipenuhi kemusyrikan tidak akan membawa manfaat apa-apa.  Sebaliknya, sebuah doa polos dengan bahasa hati yang tulus, kerendahan hati di hadapan Allah, dan meluncur dari kedalaman hati orang yang benar-benar bertakwa akan sampai juga kepada Allah, karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.  Inilah konsep yang benar.

Aksi Segelintir Oknum

Seorang aktifis ruqyah yang bernama Perdana Ahmad (24) dijatuhi hukuman penjara selama dua bulan dengan masa percobaan lima bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta yang diketuai oleh Zubaidah S.H.  Hukuman ini diberikan kepadanya lantaran terdakwa terbukti secara meyakinkan melanggar Pasal 310 KUHP jo Pasal 335 KUHP dengan tulisannya dalam buku yang berjudul “Membongkar Kesesatan Praktik Sihir pada Reiki, Tenaga Dalam dan Ilmu Kesesatan”.

Dalam bukunya itu, Perdana Ahmad  menyebut praktik pengobatan bio energi yang dilakukan pelapor, Syaiful M. Maghsri, dianggap menggunakan ilmu sihir jin dan setan. Padahal, menurut pelapor, dirinya dalam praktik pengobatan tersebut tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan Perdana Ahmad.  Dalam sidang terpisah, Syaiful M. Maghsri juga dinyatakan sebagai terdakwa karena telah melakukan penganiayaan terhadap Perdana Ahmad.

Apa yang terjadi kemudian?

Kantor pengobatan alternatif bio energi di Yogyakarta pada hari Kamis (09/03) didatangi oleh sekitar 200 orang massa bersenjata tajam, bersorban dan bercadar, serta mengatasnamakan dirinya sebagai Laskar Jihad dan berbagai ormas lainnya.  Massa langsung masuk dan mencari Syaiful M. Maghsri, bahkan sempat meneror karyawannya.  Berbagai properti di tempat tersebut juga sempat dirusak.  Aksi baru berhenti setelah kedatangan satu peleton Poltabes Yogyakarta.

Di Bantul, rumah Syaiful M. Maghsri pun tidak luput dari serangan.  Rumahnya dilempari oleh bom molotov oleh orang-orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor dan mobil.  Akibatnya, mobil sedan Syaiful rusak, kaca-kaca jendela pecah, dan atapnya terbakar.  Seseorang yang menyebut dirinya sebagai ’simpatisan Perdana Ahmad’ menyatakan dirinya bangga telah terlibat dalam aksi demikian.  Pengakuan itu disampaikannya pada milis terapi ruqyah yang memang Perdana Ahmad aktif di dalamnya.

Demikianlah aksi sebagian orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembela ruqyah.  Saya tidak hendak memojokkan para aktifis ruqyah karena kejadian ini, karena saya sendiri kenal beberapa orang aktifis ruqyah yang memiliki pemahaman yang lurus, tidak emosional, mampu mendefinisikan pemahamannya dengan baik, dan tidak kebablasan dalam bertindak atau berfatwa.  Saya juga tidak hendak ikut campur dalam masalah antara Perdana Ahmad dengan Syaiful M. Mughsri.  Silakan Anda menilai sendiri dari kejadian ini.

Yang jelas, meskipun orang-orang telah memberi gelar keulamaan, dan meskipun sudah banyak ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang telah kita hapalkan, namun kebijaksanaan dan kedewasaan itu mutlak diperlukan.  Sesungguhnya Rasulullah saw. tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Dari Mensa4newa

reply

mensa4news wrote on Jun 14

Maaf ikut nimbrung..
Yg saya perhatikan, para pe-ruqyah maupun guru-gurunya selalu kukuh mempertahankan dalih-dalihnya dgn fatwa-fatwa maupun hadits, padahal sumber hukum di atas segala sumber hukum Islam adlh Al Qur’an. Al Qur’an-lah yg dijamin oleh Allah kebenarannya, pun Al Qur’an tidak dapat ditiru/dipalsukan karena tata bahasa maupun susunan kata-nya yg demikian tinggi sehingga mustahil bagi seseorang untuk dapat membuat yg menyerupainya. Inilah yg diselidiki oleh ilmuwan non muslim yg pada akhirnya mereka mengakui bahwa Al Qur’an itu bukanlah buatan Muhammad, karena tidak mungkin Muhammad dapat membuat untaian-untaian kata/kalimat seperti itu, dgn sendirinya segala acuan hukum-hukum lain harus selaras dgn Al Qurán, baru dapat dikatakan “benar”. Segala macam fatwa-fatwa yg dibuat oleh siapapun, bukanlah kebenaran yg mutlak, karena merupakan ijtihad pemikiran seseorang, sehebat-hebatnya seseorang itu, tidak tertutup kemungkinan utk melakukan kesalahan, karena itu sudah semestinya kita kaji ulang dan kita kembalikan pada pedoman kebenaran yg mutlak, yakni Al Qur’an. Jadi, sebenarnya bukan hikmatul iman itu ingkar sunnah (hadits), tapi sunnah yg bagaimana dulu? Sunnah yg sesuai Al Qur’an sudah pasti & memang wajib utk diterima siapapun juga yg merasa dirinya muslim. Rasulullah SAW sendiri adlh Al Qur’an hidup, Al Qur’an berjalan. Beliau adlh manifestasi dari Al Qur’an itu sendiri. Saya kira tiada seorg muslim pun yg mengingkari ini. Hikmatul Iman tidak mengingkari sunnah Rasulullah SAW, hanya saja jika sunnah itu tidak sesuai dgn pengajaran Al Qur’an, apakah itu memang berasal dari Muhammad Rasulullah SAW? Inilah yg dipertanyakan. Sebab itu hendaknya segala sesuatunya kita kembalikan pada acuan yg mutlak benar, yakni Al Qur’an. Dan utk dapat memahami ayat-ayat Al Qur’an itu butuh daya pikir, karena Al Qur’an bukanlah semisal text-book materi kuliah yg penjelasannya gamblang ttg suatu pengetahuan. Ayat-ayat Al Qur’an itu mesti dipikir & dikaji secara mendalam utk dipahami dgn benar maknanya. Orang arab yg bahasa sehari-harinya bahasa arab pun belum tentu bisa memahami Al Qur’an dgn benar. Jadi, apakah yg sering disebut-sebut sebagai ulama-ulama itu mengklaim dirinya yg paling benar tentang ajaran Islam yg begitu luas?

Q.S Yunus : 36
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sebaiknya segala sesuatu kita letakkan kembali pada porsinya, sesuai kapasitasnya.

Sedangkan Rasulullah SAW sendiri tdk segan utk bertanya & meminta pendapat pada orang yg dianggap lebih paham & lebih tahu dari pada beliau.

Q.S An Nahl : 43
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka –bertanyalah– kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika –kamu tidak mengetahui–,

Rasul Musa AS pun belajar pada Khidhr ttg pengetahuan yg tidak diberikan Allah SWT kepadanya.

Q.S Al Kahfi : 66
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Rasul Sulaiman AS pun meminta bantuan utk memindahkan singgasana ratu Balqis kepada para pembesar kerajaannya (golongan jin & manusia), yg beliau kumpulkan dalam sebuah forum (mustahil terjadi jika tidak bisa saling melihat & berkomunikasi! Spt kita ketahui soal melihat jin saja sudah jadi perdebatan yg panjang tiada habisnya), yg sekaligus juga mengajarkan bahwa kemampuan manusia jauh melampaui kemampuan jin.

Q.S An Naml : 38
Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”.

Q.S An Naml : 39
Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Q.S An Naml : 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
(ayat ini sekaligus menunjukkan ttg seseorang yg mempunyai kemampuan/ilmu yg dipelajarinya dari Al Kitab! Apa yg bisa dia lakukan utk melakukan pekerjaan luarbiasa dlm waktu yg sekejap mata itu..membaca mantra?..butuh waktu berapa lama?)

Ingat fenomena orang-orang barat yg masuk Islam itu karena mereka orang-orang yg pandai berpikir, menggunakan akalnya sehingga mereka menemukan kebenaran yg ada dalam Al Qur’an, bukan karena dogma atau doktrin yg tidak bisa dijelaskan. Jgn mengatakan sesuatu itu adlh hal-hal yg tidak bisa dinalar hanya karena daya pikirnya yg belum bisa mencapai ke sana. Saya yakin pada saatnya nanti semua mu’jizat yg dilakukan para Rasul pun akan bisa dijelaskan dengan pengetahuan kenapa hal itu bisa terjadi, jika perkembangan pengetahuan memang sudah sampai ke sana. Kita tentu masih ingat saat dulu ada ilmuwan berkata bahwa bumi itu bulat, dia dianggap sesat. Kemudian saat ada seorang ilmuwan berkata bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dia dianggap sesat hingga dihukum mati oleh gereja.

Apakah kita tidak percaya bahwa pengetahuan manusia itu bisa melampaui malaikat?

Q.S Al Baqarah : 31
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Q.S Al Baqarah : 32
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Q.S Al Baqarah : 33
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Kalau pihak ruqyah mengatakan bahwa akmal ini alergi atau phobia dgn kata “ruqyah” karena dianggap telah berprasangka buruk sebelumnya, saya juga bisa bilang para pihak ruqyah ini pun alergi atau phobia dgn kata “tenaga dalam & tenaga metafisika” karena telah berprasangka buruk sebelumnya. akuilah secara jujur dan adil. Apakah contoh-contoh praktisi tenaga dalam & tenaga metafisika yg kalian tangani yg kalian anggap sesat karena menggunakan jin itu, dianggap mewakili seluruh perguruan bela-diri tenaga dalam/tenaga metafisika semuanya? Di mana itu azas mencari tahu kebenarannya, meneliti & bertabayyun? Biar kalian tahu bahwa ilmu Allah SWT itu amat luas, melampaui apa yg dapat diduga oleh siapapun.


Q.S Al Baqarah : 269
Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.

Tahukah kalian para peruqyah yg dimaksud dgn “..kepada siapa yg Dia kehendaki..?”
Jika tidak tahu..tanyakanlah kepadaNya! Sebab hanya Dia SWT yg paling tahu ttg “siapa yg Dia kehendaki” yg dimaksud oleh ayat itu.

sebetulnya bukanlah hikmatul iman yg memulai melontarkan bola api ttg ruqyah spt yg selalu dipersangkakan demikian, tetapi orang-orang ruqyah-lah yg memulai konflik itu dgn mengatakan bahwa mempelajari tenaga dalam, tenaga metafisika termasuk latihan pernapasan adlh sesat, bahkan syirik karena dibantu oleh jin. Tanpa meneliti & bertabayyun & membuktikan sendiri pada perguruan-perguruan bela diri yg ada, langsung memukul-rata / menggeneralisir semuanya. Terlebih lagi informasi itu lantas disebarkan secara meluas di masyarakat, sehingga timbul keresahan.Hal itulah yg tidak bisa diterima oleh hikmatul iman, karena merasa difitnah. Silakan di-cek artikel bahasan ttg ruqyah itu kapan mulai ada di milis hikmatul iman? Lebih dulu mana dgn penyebaran ajaran para peruqyah yg mengatakan bahwa tenaga dalam, tenaga metafisika dan pernapasan itu sesat bahkan syirik karena menggunakan jin?

Q.S An Nisaa’ : 49
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Q.S Az Zukhruf : 36
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Q.S Al Insaan : 29
Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.

Q.S ‘Abasa : 12
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,

Q.S Al Baqarah : 2
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Tiada pengajaran sebaik Al Qur’an. Tiada pengajaran yg lebih benar daripada Al Qur’an.
Semoga Allah SWT Yang Maha Pemurah, merahmati kita semua & memimpin kita di jalanNya. Amin. Salam

  1. http://a.wordpress.com/avatar/mensa4news-32.jpgmensa4news Berkata:
    Juni 14, 2008 pada 3:36 pm

hadits yg kuat dan shahih itu adlh hadits yg ada backup-nya dari Al Qur’an, tdk bertentangan dgn ayat-ayat Al Qur’an. Sebab yg dijamin oleh Allah SWT kebenarannya adlh Al Qur’an, sedangkan hadits tidak. Ini yg hrs kita pahami dulu.Sebab Rasulullah SAW adalah Al Qur’an hidup, Al Qur’an berjalan. Tidak mungkin beliau SAW memberikan suatu perkataan, perbuatan ataupun persetujuan/permakluman (hadits) yg bertentangan dgn Al Qur’an.

Kalau soal ruqyah, yg artinya “mantra/jampian”,
saya pernah terlibat dialog dgn teman yg beragama hindu. Dia bilang: “Agama kita ada kesamaannya ya”. Saya bertanya: “Ada kesamaan apa?”. Dia bilang: “Sama-sama mengajarkan mantra”. Saya terkejut lalu tanya: “Maksudnya bagaimana?”. Dia bilang: “Itu surat Al Falaq & An Nas kan termasuk mantra-mantra dalam agama kamu.”, Lalu dia menambahkan: “Mantra adlh suatu kata atau serangkaian kata atau kalimat yg diyakini mempunyai khasiat atau kegunaan tertentu apabila diucapkan.” Lalu saya jawab: “Setahu saya dalam kitab agama kami, Al Qur’an, tdk ada pengajaran spt itu, yg ada adlh pengajaran jika kita punya suatu keinginan, utk selalu berusaha sebaik-baiknya & berdo’a. Dalam Al Qur’an banyak diajarkan do’a-do’a. Dan berdo’a itu tidak ada ketentuan harus berbahasa arab, tapi ucapan-ucapan yg kita pahami arti & maknanya sesuai dgn permohonan kita kepada Allah SWT.”

Contoh lain, kita boleh berdo’a dgn asma-ul husna tapi kita tdk boleh menjadikan asma-ul husna sbg mantra maupun wirid.

Q.S Al A’raaf : 180
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka –bermohonlah– kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan –tinggalkanlah– orang-orang yang –menyimpang– dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Berita tentang Dicky Zainal Arifin saja masih simpang-siur, padahal orangnya masih ada, masih hidup, bagaimana lagi dgn hadits Rasulullah SAW yg sudah melewati masa ratusan tahun?

Dicky Zainal Arifin adlh org yg berkemampuan indera ke-enam, termasuk bisa melihat jin, dll. Itu semua bawaan sejak lahir. Tapi kemampuan itu tdk pernah dihiraukan. Terlebih karena ibunya (almarhum) adlh seorang ahli di bidang hukum yg mengedepankan berpikir realistis & dasar logika yg kuat, membuatnya tdk punya perhatian yg cukup akan bakat lahirnya tadi.
Setelah turunnya maunnah (saat kuliah) itulah dia baru mendalami latihan-latihan yg panjang & tekun, terdorong utk membuktikan kebenaran dari maunnah tersebut. Semangatnya yg luarbiasa ini yg saya kagumi. Jadi, kalau dia memiliki kemampuan spt saat ini, itu amat wajar, karena latihan-latihan keras & disiplin yg dijalaninya. Saya pikir bukan cuma dia saja yg bisa begitu, semua org juga bisa kalau mau berlatih keras & disiplin. Tdk ada hal yg aneh soal itu. Yg aneh justru org-org yg menganggap dia berkolaborasi atau dibantu jin utk kemampuan-kemampuannya itu, padahal mereka tdk tahu apa-apa. Ia adlh org yg rendah hati, tdk suka pamer kemampuan & teman bicara yg baik juga menyenangkan.

Q.S Yunus : 36
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Sebaiknya segala sesuatu kita letakkan kembali pada porsinya, sesuai kapasitasnya.

Rasulullah SAW sendiri tdk segan utk bertanya & meminta pendapat pada orang yg dianggap lebih paham & lebih tahu dari pada beliau.

Q.S An Nahl : 43
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,

Rasul Musa AS pun belajar pada Khidhr ttg pengetahuan yg tidak diberikan Allah SWT kepadanya.

Q.S Al Kahfi : 66
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Rasul Sulaiman AS pun meminta bantuan utk memindahkan singgasana ratu Balqis kepada para pembesar kerajaannya (golongan jin & manusia), yg beliau kumpulkan dalam sebuah forum (mustahil terjadi jika tidak bisa saling melihat & berkomunikasi!), yg sekaligus juga mengajarkan bahwa kemampuan manusia jauh melampaui kemampuan jin yg terkuat saat itu.

Q.S An Naml : 38
Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Q.S An Naml : 39
Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Q.S An Naml : 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Tiada pengajaran sebaik Al Qur’an. Tiada pengajaran yg lebih benar daripada Al Qur’an.

Maha Benar Allah SWT dengan segala Firman-Nya.
Salam.

  1. http://www.gravatar.com/avatar/81505ce25ff756894789b73c16c9c769?s=32&d=identiconBeckamp Berkata:
    Juli 1, 2008 pada 5:03 pm

Secara pribadi dulu waktu masih kuliah dan HI sudah mulai berkembang pesat, saya cukup mengenal Kang Dicky, baik dari segi pribadi maupun keilmuan, yang saya tau justru Hi menentang keilmuan yg bersifat syirik, Kang Dicky juga sosok orang berilmu yg tidak pernah pamer keilmuan.
Aneh juga baca ilmu HI hadiah dari Jin ??? semakin kesini saya semakin sering baca kalo secara Umum keilmuan TD selalu divonis dari Jin. Saya seorang enginer dan selalu berpikira logis, saya sudah lama mengikuti pelatihan TD hampir belasan tahun belum pernah ketemu JIN. Namun kadang orang baru baca tentang TD,atau satu jurus saja langsung menuding ilmu TD dari Jin..

~ oleh padjajaran di/pada Oktober 25, 2008.

Satu Tanggapan to “Ruqyah , Tamimah dan Tiwalah adalah syirik”

  1. bagus artikelnya.. komentarnya juga bagus-bagus..

    bagi yang sedang mencari informasi penanggulangan bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan gangguan Jiwa berbasis ajaran Islam, silahkan mengunjungi blog saya, http://benderahitam.wordpress.com

Tinggalkan Balasan